[Close]
[Close]

  Breaking News :

  •  Beras 10.751 Kg; Gula 12.799 Kg; Minyak Goreng 11.517 Lt; Tepung Terigu 9.137 Kg; Kedelai 10.732 Kg; Daging Sapi 116.601 Kg; Daging Ayam 29.405 Kg; Telur Ayam 22.193 Kg; Cabe 28.216 Kg; Bawang 25.134 |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
Pengamat Dukung Impor
Pengamat Dukung Impor

Selama ini Indonesia sangat bergantung pada impor. Tak kurang saban tahun 600anribu ton bawang putih diimpor.  Di era rezim Jokowi-JK kebiasaan ini mulai direm.  Impor tak dilarang sepenuhnya tetapi mulai dikurangi secara bertahap. 

Strategi lain setiap importir diwajibkan menanam bawang putih sebanyak 5% dari quota bawang putih yang diimpor.  Kebijakan ini dikeluarkan Kementerian Pertanian melalui PermentanNo 16 Tahun 2016 lalu.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan sikap pemerintah ini. Dikutip dari Republika,  MenteriEnggartiasto Lukita menyatakan, Kemendag berupaya menjaga keseimbangan harga bawang putih dengan tidak menggelontorkan izin impor sekaligus. Kemendag bersama Kementan tengah mendorong produksi bawang putih di Indonesia. Kemendag terus berusaha menjaga stabilitas harga bawang putih.

Sampai saat ini impor bawang putih tidak dilakukan semuanya.  Dirjen Perdagangan Luar Negeri KemendagOke Nurwan mengatakan Kementan telah baru memberikan izin bagi 13 perusahaan sebanyak 196.000 ton. Jumlah yang direkomendasikan Kementerian Pertanian untuk mengimpor bawang putih yaitu sebanyak 450.000 ton untuk 41 perusahaan.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa impor bukan sesuatu yang tabu.  Indonesia memang tidak memiliki lahan produktif dalam jumlah cukup untuk menanam bawang putih.  Sementara kebutuhan bawang putih luar biasa besar.  Impor akhirnya tak bisa dihindarkan.  Negara harus mengusahakan agar kebutuhan rakyat banyak tercukupi. 

Sejumlah pakar setuju dengan langkah pemerintah ini.  Impor bawang putih tak terhindarkan lagi.  Di sisi lain,  pengembangan lahan pertanian bawang putih harus terus dilakukan. 

Ekonom UI, Lana Soelistianingsih,  mengatakan, langkah stabilitas harga pangan dalam negeri lewat pembukaan keran impor, menjadi realistis yang sudah seharusnya dilakukan Kemendag. Sebagai contoh, soal impor bawang putih yang mau tak mau harus dilakukan karena lahan yang terbatas untuk produksi bawang putih. (sumber: Rakyat Merdeka)

Pendapat yang sama dikemukakan Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati.  Seperti dilansir Rakyat Merdeka, Eni menegaskan bahwa produksi bawang putih di dalam negeri amat terbatas.  Importasi menjadi satu-satunya jalan keluar untuk memenuhi pasokan agar harga tetap terjaga. 

Impor memang menjadi instrumen stabilitas harga.  Impor tidak dilakukan seenaknya saja seperti tudingan para haters atau kaum oposan yang tidak memahami substansi masalah.  Sebagai sebuah instrumen,  impor baru dikeluarkan ketika diasumsikan stok menipia dan dikhawatirkan akan terjadi gejolak harga.  Impor memainkan peran strategis. 

Saat ini harga bawang putih mulai terkerek hingga ke harga Rp 30-an ribu per kilogram.  Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dilansir Kompas mencapai Rp34.950 per kg, naik 45% dibandingkan awal 2018 yang tercatat Rp24.100 per kg.Penyebabnya diduga stok terbatas. 

Seperti laiknya hukum permintaan,  jika stok terbatas dan demand tinggi,  harga pasti akan naik. Langkahstrategi pengendalian harga segera dilakukan.  DilansirKontan.co.id, Menteri Perdagangan Enggartiastoberjanji akan memanggil importir bawang putih untuk memonitor realisasi impor bawang putih. Importir juga akan diminta untuk melaporkan gudang, untuk melihat data stok bawang putih yang dimiliki. “Kami akan monitor dalam waktu singkat, importirnya akan diundang untuk dilihat kapan akan masuknya,” katanya.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman memang tengah melakukan panen bawang putih di Banyuwangi.  Namun jelas jumlahnya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan bawang putih yang diperkirakan sebanyak 371 ribu ton (77%) dari total kebutuhan nasional.  Ke depan Menteri Amran meyakini Jawa Timur bisa menjadi sentra produksi bawang putih yang mampu menahan laju impor. 

Dalam kasus bawang putih ini,  kita bisa mengambil kesimpulan bawah importasi masih memegang peran strategis dalam pengendalian harga.  Impor bukan barang haram.  Asal dilakukan secara benar dengan tujuan dan prosedur yang transparan.  Tak perlu ada yang dikhawatirkan. 

Petani tetap akan mendapatkan harga sepadan,  hasil panennya bisa diserap pasar, para pedagang mendapatkan keuntungan wajar dan konsumen juga mendapatkan harga wajar berkualitas.  (herubahtiar)

Revitalisasi Pasar
Gerakan Nasional Pemerataan Ekonomi Digital Bagi UMKM Indonesia
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita
Manfaatkan Kunjungan Raja Salman, Gubernur Sulsel Datangi Pengusaha Arab Saudi
ITPC Sao Paulo Incar Komunitas Jepang
Peluang Industri Kreatif Sinematografi Terbuka Luas
KEK Maloy Batuta - Kemendag Bahas Pendelegasian Perijinan Ekspor dan Impor
Kasus Impor Daging Sapi
 
Copyright ©tradenews.co, 2016 - 2018 All Rights Reserved Powered by