[Close]
[Close]

  Breaking News :

  •  Beras 10.751 Kg; Gula 12.799 Kg; Minyak Goreng 11.517 Lt; Tepung Terigu 9.137 Kg; Kedelai 10.732 Kg; Daging Sapi 116.601 Kg; Daging Ayam 29.405 Kg; Telur Ayam 22.193 Kg; Cabe 28.216 Kg; Bawang 25.134 |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
Impor Itu Instrumen
Impor Itu Instrumen

Media monitoring pada awal pekan ini menarik disimak.  Impor beras berdampak sangat signifikan terhadap penurunan harga beras.  Efek dominonya adalah inflasi pada bulan Maret 2018 diperkirakan turun. 

Dari media InvestorDaily,  Gubernur BIAgus Martowardojo memperkirakan, inflasi pada Maret 2018, berada di angka 3,31% (yoy) atau 0,11% (mtm). Sebelumnyainflasi pada Februari 2018 sebesar 0,17%. Penurunan inflasi inimerupakan dampak turunnya harga beras pada akhir Februari hingga awal Maret 2018 seiring masa panen raya serta beras impor mulai datang untuk memenuhi stok.

Statemen Gubernur BI ini menunjukkan bahwa impor beras sangat positif menurunkan harga beras. Impor sebagai instrumem stabilisasi harga diperlukan untuk mengerem inflasi.  Ini membuktikan bahwa impor beras yang dilakukan pada waktu yang tepat sangat positif. 

Keputusan impor beras yang dilakukan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sangat positif. Punya dampak besar dalam menurunkan harga beras.  Efeknya adalah inflasi menurun. Kecepatan mengambil keputusan di tengah kritik parlemen dan masyarakat patut diacungi jempol.

Impor beras selama ini dikritik habis-habisan oleh beberapa pihak. Hari ini dibuktikan bahwa kitik itu salah alamat.  Masyarakat yang ikut menolak impor beras ikut-ikutan terjebak salah. Jika kalimat-kalimat myinyir itu diikuti dan pemerintah kalah sehingga tidak cepat mengambil keputusan mengimpor beras,  bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.  Stok beras dipastikan makin berkurang dan merosot tajam.  Efek dominonya adalah harga beras bakal melambung sangat tinggi dan menghantam inflasi.  Jika inflasi tinggi bukan mustahil ekonomi nasional bakal morat-marit.

Dampak berikutnya akan masuk ke ranah politik.  Jika ekonomi gonjang-ganjing dan inflasi menggila, situasi sosial politik dipastikan chaos.  Rakyat akan demonstrasi menuntut penurunan harga.  Rakyat akan turun ke jalan – jalan menentang pemerintahan. Dampakberikutnya adalah terjadilah di-strust terhadap pemerintah.  Situasi ini hampir pasti akan dimanfaatkan politisi untuk menyerang pemerintah. 

Sekali lagi dari pernyataan Gubernur BI ini kita makin menyadari bahwa kritik memang diperlukan untuk memperbaiki keadaan. Beda dengan sikap nyinyir yang hanya untuk menciptakan di-strust terhadap pemerintah dan dimanfaatkan oposisi untuk kepentingannya sendiri yaitu politikkekuasaan. 

Dari  peristiwa ini,  pepakaran yang mesti diambil adalah publik harus mulai menyadari  dan memahami bahwa setiap statemen politisi tidak boleh diterima mentah-mentah.  Perludikritisi agar publik tidak terjebak pada ikut-ikutan membuat statemen nyinyir di media sosial dan hanya dimanfaatkan oleh kepentingan oposisi untuk membangun distrust pada pemerintah.

Berikut ini contoh publik yang tidak memahami persoalan dan hanya ikut-ikutan saja nyinyir tentang impor beras. Dari akun @didimening Mas “@jokowibuat apa keliling sawah klo nyatanya beras msh impor n tdk muliakan petani ? Lha wong di demo petani aja ngumpet koq.”

Statemen pemilik akun itu jelas tidak mengerti persoalan.  Di sinilah oentingnya pendidikan pada publik. Edukasipada mereka harus terus dilakukan oleh siapa pun dan kapan pun.  Jika rakyat cerdas,  bangsa ini akan semakin bermartabat.  Tidak bising dan gaduh oleh berbagai macam kalimat caci maki, hinaan,  dan bantah-membantah tanpa mengetahui persoalan yang sebenarnya. 

Perlu diketahui,  saat ini,  pemerintah terus melakukan berbagai terobosan untuk menjaga stok beras menjelang puasa dan lebaran.  Kepala Satgas PanganSetyo Wasisto tengah berkoodinasi dengan Satgas di daerah untuk memastikan stabilisasi harga bahan pokok, khususnya beras. Satgas Pangan juga telah memeriksa gudang milik Bulog dan swasta untuk memastikan tidak ada penimbunan (Rakyat Merdeka).

Dari media yang sama Ketua KPPUSyarkawi Rauf memperketat pengawasan pasokan bahan pokok, khususnya beras. Untuk tahap awal, KPPU sudah mengumpulkan pengusaha beras. Hal ini untuk memastikan pasokan cukup dan memadai. “Kita harapkan harganya tidak naik. Tahun lalu kita berhasil kendalikan harga beras.”

Sedangkan Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi)Nellys Soekidi meminta masyarakat tidak khawatir terhadap  harga beras jelang Ramadhan dan Lebaran, sebab saat ini telah memasuki masa panen. 

Sekali lagi,  impor beras adalah instrumen untuk menciptakan stabilitas harga.  Kini harga beras mulai stabil.  Saatnya rakyat menciptakan stabilitas emosi dan kesadarannya agar bisa merespon kejadian,  peristiwa,  dan statemen secara normal dan positif.  (heru bahtiar) 

Revitalisasi Pasar
Gerakan Nasional Pemerataan Ekonomi Digital Bagi UMKM Indonesia
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita
Manfaatkan Kunjungan Raja Salman, Gubernur Sulsel Datangi Pengusaha Arab Saudi
ITPC Sao Paulo Incar Komunitas Jepang
Peluang Industri Kreatif Sinematografi Terbuka Luas
KEK Maloy Batuta - Kemendag Bahas Pendelegasian Perijinan Ekspor dan Impor
Kasus Impor Daging Sapi
 
Copyright ©tradenews.co, 2016 - 2018 All Rights Reserved Powered by