[Close]
[Close]

  Breaking News :

  •  Beras 10.751 Kg; Gula 12.799 Kg; Minyak Goreng 11.517 Lt; Tepung Terigu 9.137 Kg; Kedelai 10.732 Kg; Daging Sapi 116.601 Kg; Daging Ayam 29.405 Kg; Telur Ayam 22.193 Kg; Cabe 28.216 Kg; Bawang 25.134 |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
Bravo JK
Bravo JK

Di Istana Negara,  11 November 2016, Wapres Jusuf Kalla (JK) bicara tentang proteksi perdagangan yang bakal diterapkan Presiden AS Donald Trump.  Waktu itu, Trump baru saja terpilih dan menggantikan Presiden Obama. JK hampir tak yakin Trump bakal menerapkan jurus proteksionis tersebut. 

Kini keyakinan JK tak bisa dipertahankan lagi ketika melihat kelakuan Presiden Trump akhir-akhir ini.  Trump sudah mulai melancarkan aksinya dengan menerapkan bea masuk impor ke negerinya dengan tarif tinggi sekali.  China atau Asia bakal terkena kebijakan Trump untuk eskpor produk baja dan alumunium dengantarif hingga 25% dan 10%.

Secara spesifik Indonesia sudah mulai diajak perang dagang. Produk CPO Indonesia mulai diganggu.  Pajak bea masuk sudah diterapkan sangat tinggi. 

Yang mengejutkan publik adalah sikap Wapres JK yang bergeming saja. Tidak panik.  Tidak ketakutan.  Wapres bahkan tidak akan tunduk begitu saja pada tekanan Trump. Sebaliknya, sikap serupa akan diberlakukan kepada AS. 

JK mengaku Indonesia bisa membalas langkah-langkah proteksionis yang dilakukan Amerika.  Pernyataan itu dikemukakan oleh Wapres JK pada acara FoodSecuritySummitdi Jakarta Convention Center  Jakarta Kamis (8/3.

Kita lupakan sementaraangka – angka.  Berapa ekspor dan berapa impor Indonesia dengan Amerika.  Kita fokus melihat bagaimana sikap Wapres menghadapi regulasi proteksionisTrump ini. 

"Kalau CPO kita dimasalahkan Amerika, kita akan kurangi impor kedelai dan terigu," ucap JK di acara itu sebagaimana banyak dikutip berbagai media dalam dan luar negeri.

Sikap berani Wapres JK ini patut diacungi jempol.  Kebijakan perang dagang ini tampaknya murni dilakukan di era rezim Trump dan seolah-olah “bukan” pemerintah AS. Meskipun kita tahu Amerika dan Trump tak bisa dipisahkan.  Kebijakan Trump adalah beleid pemerintah AS.  Mau atau tidak mau,  suka atau tidak suka.  Trump dan Amerika sedang menabuh genderang perang dagang kepada dunia internasional.

Jargon America First seperti dalam janji kampanye Trump bakal benar-benar diterapkan. Dengan jargon ini, Trumpakan melindungi produk dalam negerinya mati-matian.  Semua produk luar negeri yang masuk ke AS bakal dihambat.  Salah satu caranya adalah pengenaan tarif masuk yang super tinggi.

 

Bagi JK,  kebijakan proteksionisme perdagangan seperti ini bakal menyusahkan publik dalam negeri AS.  Dalam bahasa JK,  proteksi AS ini justeru akan menghancurkan ekonomi Amerika.  Pasalnya Amerika tak bisa memenuhi kebutuhan dalam negerinya dari produksinya sendiri.  Amerika sangat bergantung pada negara-negara lain. 

Menurut JK yang paling mengkhawatirkan adalah banyak negara tidak lagi memegang dolar sebagai alat perdagangan. Banyak negara bisa saja akan segera mengalihkan produknya ke negara-negara lain.  Yang terjadi adalah inflasi di negeri Paman Samakan langsung meroket.  Jika inflasi tak terkendali,  Asa lambat laun bakal karam.

Saat ini kita ingin memuji sikap JK yang tidak termehek-mehek pada Amerika.  Kendati demikian, kita tetap harus berhati-hati dengan ancaman perang dagang yang dilancarkan negeri super power tersebut.  Sebab apa, Indonesia masih menempatkan Amerika sebagai negara tujuan ekspor tradisional.  Ekspor Indonesia ke AS mecapai USD 16,17 miliar pada 2016 dan impor pada tahun yang sama mencapai USD 7, 32 miliar. 

Sikap frontal Indonesia pada perdagangan bisa menghancurkan neraca ekspor.  Padahal negeri ini sedang mengincar kenaikan nilai ekspor.  Kementerian Perdagangan bahkan melakukan kerjasama dengan berbagai negara di luar negara tujuan ekspor tradisional guna menaikkan neraca ekspor.

Jika negara tujuan ekspor tradisional ini terganggu bukan mustahil perolehan neraca ekspor bisa ikut menyusut.  Jelas hal ini akan dihindari pemerintah.  Sebab,  Presiden Joko Widodo beberapa kali menginstruksikan jajaran kabinetnya untuk bersama-sama menyerbu negara-negara di dunia denga produk-produk unggulan Indonesia guna menaikkan nilai ekspor. 

Berani itu penting.  Berani dengan pertimbangan matang jauh lebih penting.  Seagai bangsa sikap JK ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia berdaulat secara politik.  Tidak tunduk begitu saja terhadap tekanan.  Itukah salah satu butir Trisakti yang dikumandangkan Bung Karno.  

Bravo Pak JK.  (Heru/redaksi)

 

Revitalisasi Pasar
Gerakan Nasional Pemerataan Ekonomi Digital Bagi UMKM Indonesia
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita
Manfaatkan Kunjungan Raja Salman, Gubernur Sulsel Datangi Pengusaha Arab Saudi
ITPC Sao Paulo Incar Komunitas Jepang
Peluang Industri Kreatif Sinematografi Terbuka Luas
KEK Maloy Batuta - Kemendag Bahas Pendelegasian Perijinan Ekspor dan Impor
Kasus Impor Daging Sapi
 
Copyright ©tradenews.co, 2016 - 2018 All Rights Reserved Powered by