[Close]
[Close]

  Breaking News :

  •  Beras 10.751 Kg; Gula 12.799 Kg; Minyak Goreng 11.517 Lt; Tepung Terigu 9.137 Kg; Kedelai 10.732 Kg; Daging Sapi 116.601 Kg; Daging Ayam 29.405 Kg; Telur Ayam 22.193 Kg; Cabe 28.216 Kg; Bawang 25.134 |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
Baja dan Trump
Baja dan Trump

Media monitoring disesaki isu rencana Presiden AS Donald Trump yang akan meniupkan peluit proteksi terhadap impor produk baja dan aluminium ke negerinya.  Jurus proteksi itu hanya berlaku untuk negara-negara Asia, terutama China. Tidak untuk negara seperti Brazil,  Kanada, dan Korsel yang dikenalsebagai eksportir baja ke AS. 

Perang dagang AS dan China mulai memasuki perang terbuka.  Trump akan mengenakan bea masuk impor untuk produk baja China sebesar 25%. Kebijakan ini terus terang bakal menghambat ekspor baja China ke negeri adidaya itu. 

Berdasarkan data Word Steel Association, China diketahui memiliki produksi baja sebesar 831,7 juta metrik ton.  Sebagian besar produksinya digunakan untukkebutuhan dalam negeri dan sekitar 95 juta ton diekspor. 

Indonesia mulai waspada.  Presiden Joko Widodo mengingatkan jajaran kabinetnya membahas isu besar perdagangan internasional ini.  Menurut Presiden,  negara-negara di dunia mulai menerapkan kebijakan yang lebihprotektif. Alasannya selalu untuk melindungi industri di dalam negerinya.

Menteri Perekonomian Darmin Nasution tengah membahas langkah kebijakan Trump ini.  Jika kran ekspor ke Amerika ditutup dengan berbagai alasan dan tarif bea masuk yang sangat tinggi,  bukan mustahil produk baja China bakal dilempar ke pasar Asean. 

Itu artinya pasar Indonesia juga bakal dibanjiri produk-produk baja asal negeri Tirai Bambu tersebut.  Menteri Darmin berembug untuk mengantisipasi kebijakan Trump agar jangan sampai kebijakan tersebut merugikan Indonesia. 

Isu berikutnya,  media memotret isu pabrikan baja yang keberatan penerapan PermendagNo 22 Tahun 2018 tentang perubahan ketiga atas peraturan menteri perdagangan Nomor 82/M-Dag/Per/2016.

Dalam Permendag baru ini, industri baja diberi kemudahan mengimpor baja dari negara luar. Impor baja tidak lagi mensyaratkan adanya rekomendasi Kementerian Perindustrian.  Tak hanya itu,  post border ikut diberlakukan.  Itu artinya, baja impor tak lagi diperiksa di daerah pabean langsung bisa dikeluarkan dari “wilayah kekuasaan”bea dan cukai dan digiring masuk ke gudang pabrik. Barudi sanalah petugas akan memeriksa sertifikat dan berbagai dokumen dan kondisi barang. 

Isu protektif Trump dan isu penerapan Permendag Baja ini terus menjadi satu paket wacana yang berkelindan di linimasa.  Kritik terus berdatangan.  Wacana terus dipertajam.  Pihak-pihak yang merasa dirugikan atau terancam dirugikan terus mengumbar narasi di media.  Perang wacana pun terjadi. 

Sejatinya,  perang memang tidak akan membuat nyaman semua orang dan semua negara di dunia.  Begitu pun perang dagang.  Jika Trump akan memproteksi produk baja,  China bisa membalasnya dengan melakukanproteksi serupa untuk produk pertanian.  Artinya ekspor produk pertanian AS bakal susah masuk ke China.

Bagaimana posisi indonesia dan apa yang mesti dilakukan?  Bagi Indonesia,  kebijakan Trump ini perlu diantisipasi.  Jangan sampai Indonesia akan menjadi pasar produk-produk impor,  baik dari AS maupun dari China.  Kebijakan sedang disusun. Kita tunggu saja hasilnya.  Yang pasti adalah gerak cepat pemerintah perlu diapresiasi. 

Misalnya Kementerian Perdagangan dengan cepat menggunakan diplomatnya di luar negeri memantau secara serius perkembangan isu Trump ini.  Salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan adalah melalui diplomasi perdagangan, menyusun kerja sama dengan banyak negara. Kemendag memastikan tengah membuat berbagai aturan kerjasama perdagangan dengan banyak negara baik secara bilateral maupun multilateral. 

Direktorat Jenderal Perundingan PerrdaganganInternasional bekerja ekstrakeras untuk memperkuat basis negosiasinya. Melalui fungsi ekonomi di KBRI,  Indonesia terus menggencarkan diplomasi perdagangan untuk mengawal dampak perang dagang dunia ini. 

Sementara di dalam negeri,  pabrikan baja yang masih meributkan beleid Permendag 22 Tahun 2018 perludiberi pemahaman baru tentang kemudahan berusaha, kemudahan perijinan,  dan kemudahan operasional barang masuk di pelabuhan. 

Beleid baja ini sebenarnya merupakan implementasi paket kebijakan ekonomi yang menghapus berbagai rekomendasi impor terutama bahan baku impor untuk kepentingan industri di dalam negeri.  Dengan menghapus rekomendasi,  impor bisa berjalan lebih cepat dan industri juga makin produktif.  

Beleid ini juga menempatkan produk baja ke dalam pemeriksaan post border.  Petugas bea dan cukai tidak lagi memeriksa kelengkapan dokumen di daeran pabean.  Begitu kapal bongkar muat langsung keluar pabean menuju gudang.  Pemeriksaan baru dilakukan di gudang. 

Dengan cara ini,  dwellingtime bisa lebih diperkecilsehinggalagi – lagi produktivitas diperkuat.  Tidak ada lagi penumpukan kontainer di pelabuhan dan di daerah pabean. Barang baku impor langsung bisa diproduksi di pabrik. 

Kini,  sambil menunggu kebijakan Trump tentang bea masuk baja,  imbauan Presiden Joko Widodo harus terus-menerus diperhatikan agar kita bisa mengantisipasi berbagai langkah proteksi perdagangan yang dilakukan berbagai negara di dunia.Trumpmemangberhati baja dan kita tak perlu ikut-ikutan berkepala baja bukan.(herubahtiar)

Revitalisasi Pasar
Gerakan Nasional Pemerataan Ekonomi Digital Bagi UMKM Indonesia
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita
Manfaatkan Kunjungan Raja Salman, Gubernur Sulsel Datangi Pengusaha Arab Saudi
ITPC Sao Paulo Incar Komunitas Jepang
Peluang Industri Kreatif Sinematografi Terbuka Luas
KEK Maloy Batuta - Kemendag Bahas Pendelegasian Perijinan Ekspor dan Impor
Kasus Impor Daging Sapi
 
Copyright ©tradenews.co, 2016 - 2018 All Rights Reserved Powered by