[Close]
[Close]

  Breaking News :

  •  Beras 10.751 Kg; Gula 12.799 Kg; Minyak Goreng 11.517 Lt; Tepung Terigu 9.137 Kg; Kedelai 10.732 Kg; Daging Sapi 116.601 Kg; Daging Ayam 29.405 Kg; Telur Ayam 22.193 Kg; Cabe 28.216 Kg; Bawang 25.134 |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
Digoreng Terus Hingga Gosong
Digoreng Terus Hingga Gosong

Cuitan bernada negatif masih saja muncul di linimasa.  Khususnya terkait pangan.  Lagi-lagi soal impor beras.  Tapi,  kita sudah tahu siapa yang menggoreng isu ini. Terus digoreng hingga garing.  Mungkin sampai gosong dan nggal laku lagi.  Publik semakin kritis.  Gorengan bakwan jauh lebih sedap daripada gorengan isu impor beras yang sudah gosong. 

Lihat cuitan yang diunggah Partai Gerindra @Gerindra."Beras impor kalau sampai dijual ke pasar sekarang bisa mengancam beras petani dalam negeri. Kebijakan pemerintah ini jelas membunuh petani padi dalam negeri" - Abdul Wachid, Anggota Komisi VI DPR RI, Fraksi @Gerindra.”

Penggoreng isu impor beras mudah dikenali.  Mereka adalah oposisi pemerintah. Diksi yang dibangun selalu bersifat ekstrem atau maksimalis dan provokatif.  Misalnya pemerintah gagal. 

Apa pun isunya,  fokus pesannya adalah menyerang pemerintah,  membuat tone negatif dan berusaha mempenegaruhi publik agar publik ikut bergerak melakukan sesuatu seperti yang diinginkan oposisi. 

Dalam cuitan itu diksi yang diambil adalah “membunuh petani. “ Faktanya tidak ada petani yang terbunuh.  Kebijakan impor yang diteken 500 ribu ton baru direalisasi 261 ribu ton.  Sisanya belum diimpor. 

Impor beras juga betul-betul dilakukan untuk mengisi stok Bulog yang kosong. Bulog harus mengisi gudangnya yang kosong sebagai cadangan beras pemerintah.  Jumlah cadangan ini minimal 1,5 hingga 2 juta ton. Jika kurang dari itu,  bisa-bisa terjadi kekosongan stok.  Jika stok kosong,  harga dipastikan akan naik. Masyarakat juga panik. 

Beras Bulog ini akan disiapkan untuk operasi pasar.  Indonesia bukan hanya Jawa.  Jika sejumlah daerah di Jawa sedang panen,  daerah lain di luar Jawa belum tentu panen.  Di situlah fungsi Bulog.  Beras didistribusikan merata ke seluruh daerah yang diketahui stok berkurang. 

Oposisi sangat paham tentang hal ini.  Komoditi beras akan selalu dijadikan isu dan terus digosok, dan digoreng hingga publik percaya dan mengikuti kemauan oposisi.  Jika publik bergerak,  itulah keberhasilan oposisi. 

Di sinilah publik mesti lebih kritis terhadap setiap statemen yang bersifat profokatif. Juga opini yang tidak masuk akal,  tidak rasional,  dan cenderung bombastis. 

Sejumlah media memberitakan hal-hal positif yang telah dilakukan pemerintah. Sejumlah hal dibicarakan.  Faktanya saat ini harga beras turun.  Agar harga terus stabil distribusi beras terus diperluas dan stok diperbesar. 

Menko Perekonomian Darmin Nasution misalnya mengatakan harga beras mulai turun, tapi belum cukup. Upaya yang dilakukan untuk menekan harga beras dengan memperbesar dan memperluas pasokan. Darmin kemudian menugaskan Bulog menyerap beras petani dengan harga yang bagus. [detikfinance.com]

Kerjasama dan koordinasi antarkementerian dan lembaga juga dilkukan sinergis.  Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta kepada Bulog untuk mendistribusikan beras ke para pedagang pasar tradisional, agar masyarakat bisa membeli beras dengan harga yang terjangkau.[metrotvnews.com]

Kerja kera dilakukan semua kementerian untuk meredam harga beras ini.  Bulan Februari 2018 harga beras sudah menyumbang inflasi 0,04% dari inflasi bulan Februari sebesar 0,17%.

Kepala BPS, Suhariyanto mengakui memang rerjadi penurunan harga beras.  “Memang ada penurunan harga beras, tapi rata-rata kenaikan 1,1% sehingga ada andil 0,04% terhadap inflasi.” [kompas.com]

Menjelang Lebaran,  pemerintah bekerja keras untuk menyediakan stok beras agar aman.  Tidak ada lagi stok yang kosong.  Semua gudang dicek satu per satu.  Panen padi petani akan diserap  Bulog. 

Impor beras saat ini tak perlu diributkan terus-menerus.  Jika oposisi dan simlatisannya masih saja menggoreng isu tersebut,  anggap saja mereka sedang menggoteng nasi yang sudah basi.  Tentu rasanya tidak enak. 

Justru yang perlu diwaspadai adalah peringatan dari Guru Besar IPB, Dwi Andreas Santoso. Dia mengatakan, Indonesia masih harus mewaspadai defisit beras pada tahun 2018. “Tahun 2018 kemungkinan masih defisit sekitar 1-1,5 juta ton.” [kontan.co.id]

Peringatan dari pakar ini jauh lebih berharga untuk diwaspadai bersama baik oleh pemerintah maupun rakyat.  Pemerintah akan terus memastikan produksi beras semakin meningkat.  Tetapi rakyat juga bisa memilih makanannya sendiri.  Sebab,  makan tidak harus beras.  Andai saja satu juta saja masyarakat kita beralih ke umbi-umbian dan sagu sebagai pengganti atau selingan makan nasi,  defisit beras tidak akan berdampak apa-apa. 

Artinya pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi rakyat bisa menjadi solusi.  Rakyat tidak perlu harus ikut-ikutan membanjiri kalimat bernada negatif di media massa atau di dunia maya tetapi cukuplah berbuat bijak , yaitu mengganti nasi dengan makanan lainnya. Bisa roti,  umbi-umbian,  atau sagu. 

Publik menjadi solusi bukan masalah.  Sebab,  isu basi yang bolak balik digoreng akan gosong. Makanan gosong rasanya pasti tidak enak. Iya nggak.  (Redaksi)

Revitalisasi Pasar
Gerakan Nasional Pemerataan Ekonomi Digital Bagi UMKM Indonesia
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita
Manfaatkan Kunjungan Raja Salman, Gubernur Sulsel Datangi Pengusaha Arab Saudi
ITPC Sao Paulo Incar Komunitas Jepang
Peluang Industri Kreatif Sinematografi Terbuka Luas
KEK Maloy Batuta - Kemendag Bahas Pendelegasian Perijinan Ekspor dan Impor
Kasus Impor Daging Sapi
 
Copyright ©tradenews.co, 2016 - 2018 All Rights Reserved Powered by