[Close]
[Close]

  Breaking News :

  •  Beras 10.751 Kg; Gula 12.799 Kg; Minyak Goreng 11.517 Lt; Tepung Terigu 9.137 Kg; Kedelai 10.732 Kg; Daging Sapi 116.601 Kg; Daging Ayam 29.405 Kg; Telur Ayam 22.193 Kg; Cabe 28.216 Kg; Bawang 25.134 |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
  •  Susu 10.350 Gr; Jagung 7.232 Kg; Ikan 77.456 Kg; Garam 10.105 Kg; Mie Instan 2.437 Bks; Kacang 25.442 Kg; Ketela Pohon 5.641 Kg |
Investasi Ini Dapat Membuat Obat Mudah Terjangkau
Investasi Ini Dapat Membuat Obat Mudah Terjangkau

Jakarta, TNO - Industri farmasi nasional terus berupaya membangun struktur yang dalam dan terintegrasi agar mampu menghasilkan produk-produk dengan inovasi baru dan bernilai tambah tinggi. Guna menciptakan tujuan tersebut, antara lain diperlukan ketersediaan bahan baku dan penguasaan teknologi sehingga dapat memenuhi kebutuhan untuk pasar domestik dan ekspor.

“Industri farmasi dan bahan farmasi merupakan salah satu sektor andalan yang diprioritaskandalam pengembangannya, karena berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian nasional di masa yang akan datang,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai Peresmian Pabrik Bahan Baku Obat dan Produk Biologi PT Kalbio Global Medika di Cikarang, Bekasi, Selasa (27/2).

Menperin menjelaskan, pemerintah telah mencanangkan program percepatan pengembangan sektor strategis ini melalui penerbitan Paket Ekonomi Kebijakan XI yang dituangkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan (Alkes) serta mewujudkan Program Nawacita pada Program Indonesia Sehat.

“Tujuan dari Inpres tersebut adalah menciptakan kemandirian industri farmasi dan alkes nasional, sehingga masyarakat memperoleh obat dengan mudah, terjangkau, dan berkesinambungan,” lanjut Airlangga. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada PT. Kalbio Global Medika (KGM), anak perusahaan PT. Kalbe Farma Tbk.,terhadap kontribusinya membangun ketahanan kesehatan di Indonesia.

KGM mulai mengoperasikan fasilitas terbarunya yang akan memproduksi obat biologi (biosimilar dan biobetter), dengan total investasi pada tahap pertama sebesar Rp500 miliar di atas lahan seluas 11.000 m2. Selain itu, KGM siap menambah investasi di bidang penelitian dan pengembangan serta transfer teknologi yang mencapai Rp200 miliar melalui kerja sama dengan China dan Korea Selatan.

Pabrik ini akan memproduksi Erythropoietin (EPO) untuk pengobatan cuci darah dan kanker yang akan diekspor ke pasar ASEAN dan beberapa negara lainnya. KGM juga memproduksi Granulocyte Colony Stimulating Factor (GCS) sebagai obat untuk meningkatkan produksi granulosit.

Selanjutnya, Efepoietin (Long Acting EPO), merupakan produk dengan molekul baru untuk menstimulasi pembentukan sel darah merah. Produk lainnya yang akan dihasilkan KGM adalah insulin dan beberapa produk MAb (Monoklonal Antibodi) untuk pengobatan kanker.

Pabrik ini diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo didampingi Menperin, Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek, Kepala BPOM Penny K. Lukito, dan Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius. “Pengembangan produk biologi di Indonesia,tentunya membutuhkan investasi yang tidak sedikit terutama pada bidang bioteknologi dan penggunaan standar internasional,” ujar Airlangga.

Dalam upaya menarik investasi dan mendorong pengembangan inovasi bahan baku farmasi di Indonesia, Menperin menyatakan, pemerintah telah menyediakan beberapa insentif fiskal, salah satunya fasilitas pengurangan pajak penghasilan badan (tax allowance).

“Dengan adanya fasilitas insentif fiskal ini, diharapkan semakin banyak industri farmasi di dalam negeri yang akan mengembangkan bahan baku farmasi sehingga dapat menurunkan ketergantungan impor bahan baku,” tegasnya,seperti dikutip dari laman Kementerian Perindustrian.

Seiring langkah Kemenperin mengajak industri nasional agar memanfaatkan penggunaan teknologiterkini dalam menghadapi era Industry 4.0. KGM sendiri dinilai sebagai industri farmasi pertama di Indonesia yangtergolong padat teknologi, dengan menerapkan teknologi robotik untuk mencegahkontaminasi, teknologi bioreaktor perfusi untuk meningkatkan produktivitas, dan teknologi isolatoruntuk menjamin sterilitas produk.

Menurut Vidjongtius, dalam mengoperasikan pabrik bahan baku obat dan produk biologi ini, pihaknya juga menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang bioteknologi dan rekayasa genetika. Hal ini dibutuhkan untuk mengembangkan dan memproduksi produk biologi dengan bekerja sama dengan Indonesia International Institute for Life Science (I3L).

“Selain memiliki keunggulan dari fasilitas teknologi dengan quality system dan fasilitas berstandar internasional serta ramah lingkungan, Kalbe juga berkomitmen mengembangkan SDM Indonesia untuk menjadi lebih kompeten di bidang kesehatan,” paparnya.

 

Tambah Rp5,8 Triliun

Pada kesempatan yang sama, Menperin menyampaikan, pemerintah telah memberikan kemudahan berusaha dalam upaya peningkatan investasi industri farmasi di Indonesia, baik itu berupa pemberian insentif fiskal maupun melakukan deregulasi. Hal ini guna menggenjot kapasitas dan kapabilitas sektor ini agar mampu memproduksi bahan baku dan obat jadi, yang juga bertujuan menjamin kemandirian obat, menghemat devisa dari impor, dan lebih berdaya saing di pasar ekspor.

Kemenperin mencatat, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional tumbuh sebesar 6,85 persen dan memberikan kontribusi sebesar 0,48persen pada tahun 2017. Demikian juga dengan nilai investasi yang meningkat sebesar 35,65 persen. Pada tahun 2017, penambahan investasi di sektor ini mencapai Rp5,8 triliun.

“Dengan adanya penambahan investasi, terjadi pulapeningkatan jumlah tenaga kerja,” tutur Airlanga. Bahkan, industri farmasi Indonesia telah tumbuh pesat dan mampu menyediakan sekitar 70 persen dari kebutuhan obat dalam negeri.

 

Menperin menyebutkan, industri farmasi menjadi salah satu subsektor yang diharapkan berkontribusi signifikan untuk mencapai target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas tahun 2018 yang telah ditetapkan sebesar 5,67 persen. “Industri farmasi sudah mampu menyediakan 70 persen dari kebutuhan obat dalam negeri,” ungkapnya.

Dirjen Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono mengungkapkan, industri farmasi serta produk obat kimia dan tradisional akan memberikan kontribusi pertumbuhan paling tinggi di sektor IKTA pada tahun 2018, yakni mencapai 6,38 persen.

Menurutnya, Indonesia berpotensi unggul apabila mengembangkan sektor industri farmasi, herbal, dan kosmetika karena memiliki sumber daya alam yang mampu mendukung proses produksinya. Terlebih lagi, Indonesia akan berkerja sama dengan Singapura dalam penetapan standar dan keamanan pangan termasuk juga produk herbal agar bisa lebih berdaya saing di tingkat global.

Selain itu, didukung pula melalui program yang sedang gencar dilaksanakan oleh Kemenperin, yaitu pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis kompetensi untuk menciptakan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan dunia industri. “Apalagi, dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sehingga membuat investasi di sektor ini menarik dan berbagai proyek masih jalan terus,” imbuhnya. (*/AHM)

Revitalisasi Pasar
Gerakan Nasional Pemerataan Ekonomi Digital Bagi UMKM Indonesia
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita
Manfaatkan Kunjungan Raja Salman, Gubernur Sulsel Datangi Pengusaha Arab Saudi
ITPC Sao Paulo Incar Komunitas Jepang
Peluang Industri Kreatif Sinematografi Terbuka Luas
KEK Maloy Batuta - Kemendag Bahas Pendelegasian Perijinan Ekspor dan Impor
Kasus Impor Daging Sapi
 
Copyright ©tradenews.co, 2016 - 2018 All Rights Reserved Powered by